Sabtu, 30 Januari 2010

Kelola Hot Money, Pemerintah Bisa Contoh China-Eropa

0 komentar
JAKARTA – Pemerintah dinilai tidak memiliki strategi yang tepat untuk mengelola aliran dana yang masuk ke dalam negeri untuk menghidupkan sektor riil.

Sehingga dana yang masuk dari luar tersebut hanya menjadi hot money dimana jika kondisi dalam negeri bergejolak maka hot money tersebut dapat dengan mudah pergi ke luar negeri.

“Yang kita tidak punya bagaimana risiko menjadi uang masuk kita serap mengadopsi risiko. Kita enggak punya system. kita stagnan, dari DPK semua ngumpul di bank besar, di transaksi bursa, kita sibuk di pasar uang,” ujar Pengamat Pasar Modal, Yanwar Rizki, seusai acara Polemik Trijaya FM, di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (30/1/2010).

Dia menyatakan bahwa seharusnya Pemerintah dapat mencontoh beberapa negara yang berani memanfaatkan aliran hot money tersebut untuk menjalankan sektor riilnya.

Dicontohkannya, China yang memiliki lembaga yang memang ditugaskan untuk mencari hot money tersebut namun dana tersebut nantinya dialirkan dalam bentuk subsidi ke sektor-sektor tertentu.

“Di 2010, china memang sedang melakukan pengetatan likuiditas tapi untuk agriculture dan bisnis pedesaan diberikan subsidi oleh dia. Itu sebagai driving oleh pemerintah untuk menurunkan suku bunga sebagai salah satu factor biaya. Dinegara itu biaya produksi diperkirakan menurun untuk sektor yang menyerap TK terbesar,” ujarnya

Sementara itu, di negara-negara Eropa Pemerintah memberikan insentif pajak bagi bank yang memberikan kredit ke sektor unggulan yang ditetapkan pemerintah dan juga pemberian insentif pajak bagi perusahaan yang melakukan reinvestasi ke sektor rill. Hal tersebut lah yang seharusnya dilakukan Pemerintah untuk mengelola aliran hot money yang masuk tersebut agar tidak keluar dengan mudah.

“Pilih saja yang mana? kita nggaK ada apa-apa, cuma diam saja. Yang ada kalau indeks naik, kurs menguat ya jatuh,” pungkasnya.
sumber : okezone.com

0 komentar:

Posting Komentar